Khodam

Oleh Rudy Wiratama

Baru-baru ini kita dibuat terhenyak dengan sebuah fenomena yang sangat viral di kalangan pengguna platform Tiktok dan media sosial lainnya, ketika banyak dari kalangan muda kita --yang katanya modern dan rasional-- mendadak ‘terpesona’ dengan jasa cek khodam online

Mekanismenya, mereka mengikuti sesi live seorang paranormal untuk minta dibacakan siapa ‘pengawal gaib’nya, dengan imbalan diberikan gift, like, dan sejenisnya dari para pemirsa. Dalam konteks yang lain, mereka juga bisa meminta orang-orang untuk memberikan jasa memvisualisasikan siapa khodam yang menghuni rumahnya, keris koleksinya, atau bahkan merasuki tubuhnya. Jika dulu kita mengenal adanya jasa lukis entitas spiritual, yang dengan cara mantheng pangesthi atau berkonsentrasi bahkan mampu untuk menggambar sosok-sosok Ki Ageng Pemanahan, Ki Juru Mertani, atau Panembahan Senapati yang hidup lebih dari dua abad sebelum ditemukannya kamera foto oleh Joseph Niepce dan Louis Daguerre, maka saat ini dengan bantuan AI (Artificial Intelligence), menggunakan prompt atau perintah yang tepat, walau perbendaharaan tentang bentuk-bentuk khas Indonesia belum terlalu akurat, klien akan mendapatkan gambaran tentang entitas pendamping diri mereka ini secara instan dan, boleh jadi, memuaskan rasa keingintahuan mereka. 

Gambar 01. Louis Daguerre | Ia terkenal karena menciptakan proses fotografi pertama yang praktis dan komersial, yang dikenal sebagai daguerreotype.

Walaupun sebagian dari para netizen mengklaim bahwa kegiatan itu adalah ‘untuk iseng’ atau bersenang-senang saja sambil mengisi waktu kosong, akan tetapi pada kenyataannya dalam masyarakat gejala keingintahuan menyibak tabir gaib untuk mengenal dan mengidentifikasi khodam ini lebih luas dan berdampak. Mulai dari yang tak pernah terekam jelas dalam radar para wartawan media online, misalnya. Di wilayah Banyumas Raya, dalam sebuah kesenian ebeg atau kuda lumping, dalam sesi-sesi tertentu beberapa penari, dan bahkan penonton, akan mengalami trance dan menari di luar kesadaran mereka, dengan keterampilan, keberanian, dan kelincahan di luar biasanya. Mereka percaya bahwa yang sedang bertindak itu adalah indang, yang sifatnya merupakan bawaan dari masing-masing orang. Ringkasnya, ada yang memang bakat trance karena memiliki indang bawaan. Bagi yang tidak punya? Rupanya bangsa kita selalu punya alternatif untuk menjawab setiap permasalahan. Beberapa paranormal bahkan menawarkan jasa untuk top-up dan refill indang kepada khalayak muda ini, dan ternyata permintaan untuk itu termasuk lumayan. Fenomena ini bisa dibedakan dengan kasus di Bali ataupun di Jawa masa lalu, yang menyebut trance dengan istilah kerawuhan. Biasanya, dalam kerawuhan, entitas gaib tidak menghuni tubuh manusia targetnya dengan permanen. Ia akan datang dan pergi lagi setelah kondisi yang memungkinkan terjadinya kerawuhan selesai. Dalam dunia per-khodam-an, sosok-sosok ini merupakan entitas yang menempel kepada manusia sebagai ‘inang’nya, dan diharapkan mampu menyelesaikan masalah-masalah hidup, keruwetan pekerjaan, sampai menambah kesaktian dan kekuatan jika diperlukan. 

Gambar 02. Dalam konteks Tari Kecak, trance terjadi ketika para penari mencapai keadaan transenden melalui tarian dan nyanyian yang intens. Beberapa penari bisa terlihat seperti berada dalam keadaan kesurupan atau tidak sadar saat mereka menari.

Sesungguhnya, jika kita menilik pada istilah khodam, jujur saja asumsi kita tentu akan mengarah kepada bahasa Arab. Dalam arti aslinya, khadam alias khadim dipakai untuk mendefinisikan “seorang pelayan”, tidak harus jin, yang melakukan kerja khidmat alias “pelayanan dengan penuh hormat dan takzim” kepada yang empunya. Dalam tradisi masyarakat pesantren di Jawa, istilah khadim sendiri dipakai untuk menyebut santri-santri, biasanya yang sudah senior, yang punya kedudukan di ring terdekat Kyai-nya. Para khadim ini tidak hidup dalam satu strata dengan para santri biasa, namun punya kuasa lebih atas mereka, dan punya tugas-tugas khusus: mulai dari memasak sampai ke antar-jemput keluarga Kyai ke pasar, sekolah, dan lain sebagainya. Adapun dalam bahasa Jawa sendiri, mulanya istilah khodam tidak dikenal, melainkan prewangan, dari kata rewang atau rowang, yang bisa berarti ‘teman’, namun lebih sering diasosiasikan sebagai ‘pembantu’ atau ‘pelayan’. Maka harap maklum, apabila dalam percakapan masyarakat Jawa urban saat ini, frasa ‘golek rewang’ bukan lagi bermakna ‘cari teman’, namun ‘merekrut ART (Asisten Rumah Tangga)’. Secara tugas pokok dan fungsi, prewangan dan khodam pada hakikatnya sama. Hanya masalah rasa bahasa-lah yang membedakan mereka: yang satu terkesan keJawa-Jawa-an, dan yang satu keArab-Arab-an. Seingat saya istilah khodam memang belum terlalu dikenal di masyarakat  kampung halaman saya sampai menginjak remaja, dan barulah dalam rubrik-rubrik konsultasi spiritual di koran-koran daerah Jawa Tengah, seingat saya istilah ini baru ‘dipopulerkan’ oleh beberapa paranormal yang memang berasal dari Pantura Jawa Tengah, seperti Edy Rusmanto (Bos Eddy) dari Pati, sebuah daerah yang beririsan antara populasi Kejawen dan Santri-nya. Daerah yang dijuluki sebagai ‘Hogwarts van Java’ oleh beberapa jurnalis ini, selain terkenal dengan paranormalnya yang ampuh, juga bereputasi sebagai gudangnya ulama yang seringkali dicap ‘subversif’ oleh Keraton, mulai dari Syekh Jangkung di zaman Sultan Agung sampai Kyai Ahmad Mutamakkin alias Ki Cebolek pada akhir masa Mataram Kartasura. 

Gambar 03. Khadim

Saat fenomena cek khodam ini meruak di permukaan, beberapa media online kemudian menyorongkan alat rekamnya kepada saya, mencari semacam ‘fatwa’ dari akademisi, yang saya tidak tahu, apa fungsinya buat reportase mereka. Dengan tertatih-tatih dan sebisa mungkin saya mencoba mengurai masalah ini menggunakan perspektif sastra dan kebudayaan, sesuai ranting dan cabang ilmu yang telah distempelkan Kementerian kepada identitas saya, untuk mencari gambaran utuh tentang euforia nasional ini. Dalam benak saya, terlintas bahwa ramainya fenomena cek khodam online ini timbul dari masyarakat yang haus validasi. Maksudnya, dengan keberadaan khodam tersebut, mereka merasa ‘berharga’: bahwa mereka adalah ‘anak emas leluhur’, punya weton ‘bertulang wangi’, punya bakat kaya, dan bahkan ‘titisan dari seorang panglima perang yang sakti di masa lalu’. Validasi-validasi ini jadi penting, lebih-lebih di tengah masyarakat yang lebih ringan mencaci daripada mengapresiasi sesamanya saat ini. Dengan demikian, fenomena per-khodam-an ini, lebih kurang bisa menjadi semacam coping mechanism untuk menghadapi deraan permasalahan hidup, apalagi di tengah tekanan ekonomi dan sosial yang, sekuat apa kita ingin memungkirinya, namun benar-benar terjadi dan perlahan-lahan mulai mencengkeram orang-orang di sekitar kita.

Namun, di sisi lain, validasi yang diperoleh dari khodam tersebut ada kalanya justru menjadi sebuah pembenaran bagi sementara orang untuk berbuat ‘yang aneh-aneh’, dan ketika diurus secara sosial dan hukum positif, khodam bisa jadi salah satu entitas yang dipersalahkan pertama kali, sebelum pada akhirnya mereka menjatuhkan pilihan antara segera mengaku khilaf atau merasakan nikmatnya beberapa kali disentuh ‘cetakan perkedel manual’. 

Sayangnya, seberbusa-busa apapun saya menerangkan masalah ini, justru soal rasionalisasi euforia per-khodam-an ini bukan menjadi highlight utama. Mungkin memang bukan salah reporternya, sebab mereka bukanlah yang punya kewenangan menyunting dan menentukan berita mana saja yang naik. Tapi setidaknya, secara muwajahah atau bertatap muka saya sudah melepaskan uneg-uneg saya dengan gamblang dan jelas, dan semoga hal ini membekas di dalam lubuk hati para jurnalis tersebut. Apapun yang dimuat di media massa atas nama pernyataan saya, barangkali dalam tulisan inilah Pembaca akan menemukan seperti apa logika dan pemahaman yang coba saya gunakan untuk menganalisis hal ini, dan sekaligus artikel ini kami maksudkan sebagai hak jawab atas pemberitaan-pemberitaan tersebut, tanpa bermaksud melawan, hanya untuk melengkapi dan memperjelasnya saja. 

Gambar 04. Cek Khodam via TikTok

Kembali lagi ke fenomena khodam yang ‘mengasyikkan’ ini, setelah beberapa hari berlalu sejak wawancara-wawancara dari media online ini, saya menyadari bahwa ada hal lain yang silap saya ungkapkan dalam wawancara tersebut: orang Jawa, khususnya, pada hakikatnya justru tidak terlalu setuju dengan keberadaan khodam eksternal yang didatangkan, diundang, direkrut, dan ‘digaji’ dengan konsekuensi-konsekuensi tertentu, sebab dalam beberapa kasus bisa jadi terlalu mahal bayarannya dan terlalu serius dampaknya bagi kehidupan. Banyak dari mereka yang lebih senang berurusan dengan khodam internal, yang sering dinarasikan sebagai ‘kakang kawah adhi ari-ari’, alias ‘sedulur lahir tunggal sedina’, yang memang anugerah Tuhan bagi semua orang yang dilahirkan di dunia ini. Semenjak menurut cerita konon ‘orang pintar’ sekelas Albert Einstein hanya menggunakan seperlima kemampuan otaknya (sekali lagi ini konon, hanya sebagai ilustrasi), maka delapan puluh persen lainnya kita ‘terima’, walau belum terbukti secara ilmiah, dalam bentuk kewaskitaan (intuisi), insting, dan bahkan kekuatan potensial yang bisa muncul di saat tak terduga (misalnya ketika Anda tiba-tiba bisa melompat lebih jauh atau memukul lebih kuat daripada yang semestinya). Hal-hal ini, dalam pandangan orang Jawa, kadang dianggap sebagai ‘hasil kerja’ khodam internal ini, yang tidak menuntut bayaran apa-apa selain manusia sebagai pancer atau pusat makrokosmos menyadari dan mau berdamai dengan keberadaan mereka. Saat manusia berpulang ke alam keabadian, mereka pun juga akan ikut mengantar sang pancer ini kembali ke kesempurnaan sejatinya, asalkan sang pancer telah mengetahui ke mana alamat terakhir yang akan dituju dengan sebaik-baiknya. Jika tidak, maka roh pancer tidak akan menikmati sangkan paraning dumadi, dan karena terlalu condong ke salah satu sifat khodam internal, justru akan menjadi panasaran. 

Dalam peristilahan psikologi modern, kadang-kadang sedulur lahir tunggal sedina ini sering disebut pula sebagai ‘sahabat imajiner’, ‘teman fantasi’, dan --izinkan saya berinterpretasi-- juga kadang dianggap sebagai catatan-catatan memori dan sensori tentang pengalaman hidup yang disebut sebagai inner child. Maka dalam pewayangan, seringkali kita temukan ada beberapa tokoh wayang yang memiliki kesaktian atau daya linuwih, yang justru asalnya dari ‘saudara’ sang pancer. Yang paling terkenal di antaranya adalah Sukasrana, saudara dari Sumantri, patih Maespati kebanggaan Prabu Arjuna Sasrabahu. 

Dalam kisah tentang Sumantri, kita sama-sama tahu bahwa Sumantri yang tampan dan atletis ini memiliki seorang saudara yang berasal dari ari-arinya, yang bernama Sukasrana (ada yang menjabarkan namanya dari suka-sarana, artinya ‘pemberi pertolongan’). Sosok Sukasrana ini digambarkan sebagai anak kecil yang selamanya kerdil, dengan kepalanya yang gundul dan besar, perutnya gendut, dan bicaranya tak lancar. Sehubungan tidak ada wayang bakunya atau jarang ada interpretasi yang sesuai, tokoh Sukasrana ini sering digambarkan buruk rupa dengan meminjam tokoh setanan atau jin anak buah Batari Durga. Di balik kekanak-kanakannya yang abadi, sosok Sukasrana berfungsi sebagai khodam bagi Sumantri: dengan kekuatan daya cipta dan karsanya, ia melakukan banyak pekerjaan yang nyaris mustahil, dan menolong Sumantri sebagai ‘sang pancer’ dalam berbagai kemalangan dan deadlock yang nyaris selalu menimpanya. Sayangnya, dalam akhir kariernya, Sumantri yang menyadari dirinya sebagai fully-grown adult, lalu mencampakkan Sukasrana, the eternal child yang selalu menemani dirinya, dengan cara ‘membunuhnya’. Dan semenjak itulah patih Maespati itu mengalami kemerosotan drastis dalam pengabdiannya, dan berakhir mati di tangan Rahwana, raja Alengka. Hal ini bisa jadi merupakan ‘kecerdasan’ Sindusastra, penyair abdi Pakubuwana VII (1830-1858) yang menyelipkan episode dari tradisi Kandha ini ke dalam karyanya, Arjunasasrabahu, yang semula tidak ada dalam gubahan Yasadipura, seniornya, yakni Serat Lokapala. Episode ini juga tidak dipertimbangkan secara serius sebagai pondasi Serat Tripama karya Mangkunagara IV, yang lebih menyoroti masalah keperwiraan (saat ini: profesionalisme) dan loyalitas daripada persinggungan-persinggungan batiniah dan simbolik yang dialami manusia. Namun pada intinya episode Sumantri-Sukasrana ini adalah sebuah kaca benggala bagi kita, untuk melihat bagaimana manusia lahir di dunia sebagai entitas yang multidimensional dan berkepribadian yang multilapis, dan bagaimana kita bisa mengenal, memahami, dan berdamai dengannya lah jalan ‘keselamatan’ itu bisa digapai. 

Pada kenyataannya, kisah-kisah tentang hubungan batiniah antara manusia dan khodam internalnya yang bersahaja ini terlalu romantik dan ndakik-ndakik, dan justru tidak menarik minat orang Jawa ‘postmodern’ untuk lebih jauh menggalinya. Mereka lebih senang mengetahui bahwa khodam mereka adalah seorang hulubalang bermuka garang dari Majapahit, raksasa bertaring besar asal Medangkamulan, atau harimau siluman Pajajaran yang galak kepati-pati. Mereka lebih berharap bahwa khodam ini mampu mendatangkan manfaat yang jauh lebih besar bagi kehidupan mereka secara pragmatis. Apalagi, media telah lama menyuguhkan kepada kita: bahwa ketika seorang lulusan pascasarjana masih harus bertungkus-lumus penuh peluh menyelesaikan urusan administrasi dengan bayaran tak seberapa, bahkan tertindas lahir batin dalam masyarakat yang semakin buas, di luar sana-- sekumpulan, setongkrongan, atau bahkan sekeluarga-- selebritas dengan manfaat sosial yang nyaris nol bagi masyarakat seolah memiliki pohon uang yang selalu bertunas dan berbunga di setiap musim. Lantas apa hubungannya fenomena ini dengan khodam? Jelas: bahwa kepemilikan khodam, entah benar atau salah, entah nyata atau fiksi, diharapkan bisa untuk nyurung, mendorong, agar guliran nasib yang seret bisa menggelinding lebih lancar dan cepat. Bagi yang memiliki khodam kecantikan, supaya lancar jodoh. Yang memiliki khodam kewibawaan, lekas naik pangkat. Dan yang memiliki khodam kekayaan, lekas terbebas dari jeratan hutang. 

Ketika saya mulai kebablasen menelisik yang gaib-gaib dalam menyelesaikan tulisan tentang per-khodam-an ini, saya pun sadar pula, bahwa khodam juga tampil dalam bentuk dan format yang lain dalam aspek kehidupan manusia. Selain ia muncul dalam bentuk teknis seperti ChatGPT dan AI yang perlahan-lahan mengambil-alih daya kreatif dan kognitif manusia, ia juga sekonyong-konyong hadir dalam bentuk yang sama sekali tidak kita perkirakan: ada khodam akademik, di mana untuk meningkatkan reputasi (dan juga pada akhirnya remunerasi) sebagian dari para begawan terjebak untuk memasukkan pelbagai karya ilmiah dan pemikirannya dengan menghalalkan segala cara untuk terekam pada pangkalan data internasional; ada khodam administratif, di mana dengan sedikit ‘kembang-menyan’ yang harum mereka dapat bergerak cepat mengakali sistem untuk keperluan-keperluan tertentu; dan bahkan ada khodam politik. Soal yang terakhir ini, saya tak mau banyak berkomentar, sebab untuk menangkap gerakannya saja, mata saya terlalu lamur dan pandangan saya terlalu samar-samar. 

Apapun bentuknya, dan apapun asal etimologisnya, tampilnya khodam dalam kehidupan manusia mestinya tidak perlu menjadi sebuah masalah. Yang menjadi masalah adalah hilangnya pemahaman manusia tentang akar kata khodam itu sendiri, bahwa dalam tataran hakikat mereka adalah khadim, rewang, pembantu, alias: Kawula. Manusia yang berkesadaran penuh, mestinya menangkap hal-hal ini dalam kapasitasnya sebagai refleksi bayangan Gusti. Implikasi dari hal ini: ketika manusia tak lagi paham dan memilih abai endi Kawula, endi Gusti, jangankan untuk Manunggal, untuk Amor Kawula Gusti saja, niscaya kita akan gelagapan untuk meraba-rabanya. Dan dalam samudra gegap gempita khodam ini, kegagalan memahami esensi kehidupan justru akan menyeret kita pada alam panasaran yang baru: ketika Kawula akhirnya malah mengangkangi Gusti, dan Gusti justru diperbudak Kawula. 

Previous
Previous

Merdeka tapi Bingung.