Merdeka tapi Bingung.

Oleh Rudy Wiratama

Pagi ini, umbul-umbul telah berjajar rapi di sepanjang gang tempat saya tinggal. Sesuai instruksi Pemerintah, kami pun telah memasang bendera merah-putih di pagar rumah, untuk mulai dikibarkan pada tanggal 1 Agustus, dan dilepas lagi pada tanggal 1 September nanti. Walaupun tidak lagi marak seperti ketika saya masih kanak-kanak, geliat aktivitas perlombaan selama bulan ini, yang disebut sebagai “Agustusan” mulai bergeliat.

Beberapa kompetisi yang sifatnya hiburan dan kegotongroyongan diadakan. Proposal dari Karang Taruna mulai diedarkan dari rumah ke rumah. Warga boleh membantu apa saja, mulai dari donasi uang sampai dengan sekadar beras, telur, dan daging ayam untuk acara masak-memasak jelang malam puncak alias Tirakatan. Kampung-kampung bersolek, kantor-kantor pemerintahan diselubungi nuansa merah-putih. Tidak ketinggalan, beberapa baliho ukuran besar dengan wajah-wajah ramah para pejabat dan tokoh politik menghiasi penjuru kota, mengucapkan “Dirgahayu” dan selamat bagi Republik tercinta. Yang agak vakum mungkin dari kalangan seniman: kalau di tahun-tahun lalu, apalagi sebelum pandemi, teman-teman saya seniman pedalangan dan karawitan bisa kebanjiran order sepanjang bulan Agustus (bahkan, ada yang sampai menjemur handuk dan pakaian ganti di bus saat parkir sebab selama bulan ini pula ia nyaris tidak pulang ke rumah), saat ini tanggapan atau undangan berpentas bisa dibilang menurun drastis: story WhatsApp mereka yang saat ini jarang mengupdate suasana diatas panggung menjelang pementasan tiap sore adalah salah satu indikator utamanya. 

Gambar 01. Affiche "Bangsa merdeka, negara merdeka". Stempel van K.D.M. Lumadjang Malang Gerilja II. Koleksi Arsip KITLV. [circa 1945]

Namun, lepas dari segala hiruk-pikuk dan riuh-rendah Agustusan itu, tentu kita tidak dapat mengabaikan begitu saja bahwa semuanya adalah bagian dari hajat bangsa dan negara kita, Indonesia, yang memperingati proklamasi kemerdekaan Republik sejak tanggal 17 Agustus 1945. Satu hal lagi yang tak dapat terlupa adalah pada bulan ini tangan-tangan terkepal tinggi sambil memekik “Merdeka!”, membangkitkan semangat setiap orang yang mendengarkannya. Masalahnya, semakin hari, pekik itu semakin sayup. Kita mungkin saja baru menyadari, bahwa negara ini ternyata telah merdeka secara formal selama 79 tahun. Jika para pejuang revolusi fisik (yang rata-rata berusia 20 tahun) dan pejuang di meja diplomasi (yang rata-rata berusia 40 tahun) saat itu sekarang masih menikmati usia yang panjang, tentu saat ini mereka--para ‘pelaku utama’ perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia--telah berusia rata-rata 99 dan 119 tahun. 

Andaikata para pejuang kemerdekaan ini masih menikmati usia panjang sampai hari ini, tentu ada dua masalah: yang pertama, fisik tak lagi kuat untuk mengepalkan tangan ke udara seperti tiga atau empat dekade lalu, apalagi untuk memekikkan kata “Merdeka!” yang keramat itu. Yang kedua, bersama dengan menurunnya kemampuan fisik, tentu daya ingat dan daya verbal juga semakin turun. Tentu saja, seiring dengan kejadian tersebut, maka kiranya banyak sekali kepingan-kepingan romantisme sejarah perjuangan masa lalu ikut terkubur bersama zaman. Kaum milenial yang lahir tahun 80 atau 90-an pasti pernah walau sekilas dua kilas menikmati masa-masa kisah heroik ini dituturkan tiap sore atau malam, di tengah-tengah perkumpulan keluarga yang hangat. Saya sendiri, dalam beberapa kesempatan juga pernah menikmatinya: pada saat pergi menjelajah desa bersama simbah kakung, Kakek saya, yang kagumnya bukan main kepada Ir. Soekarno, Slamet Riyadi, dan Gatot Subroto. Kadang-kadang cerita itu disampaikannya sembari duduk termangu di pinggir sawah dan menghisap rokoknya lewat pipa cangklong yang selalu dibawanya, dan kadang-kadang lagi cerita-cerita itu menyelinap begitu saja di benak saya pada waktu malam hari, sembari mendampingi beliau merokok (lagi) dan menikmati kopi panas kegemarannya. 

Gambar 02. Foto diambil oleh Fridus Steijlen sebagai bagian dari proyek Recording the Future. Arsip KITLV [2011]

Seiring dengan semakin banyaknya para pahlawan dan pejuang yang telah ‘diserahkan kembali kepada bumi Pertiwi’, dan bisa dibilang saat ini sudah hampir habis, maka kenangan-kenangan tentang cerita-cerita ini pun juga semakin langka. Kita tinggal dapat mengandalkan dua sumber lain untuk dapat ‘membangkitkan’ kenangan itu: membaca buku-buku sejarah baik versi Pemerintah atau ‘swasta’, atau menggunakan cara yang lebih singkat dan instan: lewat berbagai podcast dan kiriman media sosial yang setiap hari berseliweran. 

Kita tidak boleh lupa bahwa berbicara soal Kemerdekaan bagi bangsa Indonesia ini artinya juga berbicara tentang sejarah. Dan sejarah, konon katanya, ditulis oleh pemenang. Ketika pemeo ini saya renung-renungkan kembali, rupanya kata ‘pemenang’ ini tidak semata-mata orang yang berjaya menaklukkan sebuah daerah atau membantai lawan-lawannya dalam peperangan. Seorang ‘pemenang’, bisa jadi justru tidak mempunyai kualitas-kualitas semacam itu. Walaupun kalah jumlah dan anonim, seorang ‘pemenang’ bisa saja adalah seorang yang menguasai medan dalam senyap. Tentu saja, lebih khusus lagi ‘medan naratif’, yang menjadi tempat pergulatan ide yang kemudian bisa meruak dan mempengaruhi alam pikir banyak orang dengan membentuk ‘siapa pahlawan’ dan ‘siapa penjahat’nya. Perebutan kekuasaan terhadap ‘medan naratif’ ini, rupa-rupanya, terus menerus riuh dan sesak, bahkan melampaui keriuhan studi tentang fakta-fakta sejarah yang didapat dengan jerih-payah akademik, yang kadang-kadang bisa ditepis dan dicampakkan begitu saja oleh khalayak yang sudah terlanjur ‘kalap’ memakan konten media tanpa dicerna. 

Di alam post-truth, hal ini memang nyata dan lazim adanya. Sebab, dalam zaman ini objektivitas konon nilai dan pengaruhnya justru lebih kecil dibandingkan hal-hal yang menyentuh sisi emosional dan kepercayaan pribadi. Dengan semakin terbukanya tingkat akses media tanpa diimbangi adanya keterbukaan dan kedewasaan pemikiran, tentu saja hal ini hasilnya adalah bencana. Apalagi, ditambah dengan semakin kacaunya konsep desentralisasi pemerintahan lewat Otonomi Daerah yang justru ‘kecolongan’ dengan semakin tumbuhnya sentimen kesukuan dan antargolongan, yang tentunya punya kacamata sendiri-sendiri dalam melihat ‘medan naratif’ tersebut, dengan kepentingan dan dorongan yang tentu saja kebanyakan berlainan dengan sekadar ‘mencari kebenaran objektif’.

Hal itulah yang kemudian membuat masyarakat kita terjebak dalam berbagai macam perdebatan tentang suku, agama, atau umat manakah ‘yang paling tua’, ‘yang paling kaya’, ‘yang paling sakti’, sampai dengan ‘yang paling berjasa’ terhadap bangsa dan negara ini. 
— PENULIS

Kombinasi dari sisi emosional dan kepercayaan pribadi yang terus-menerus dirangsang dengan konten-konten yang berbunga-bunga dan penuh puja-puji untuk membelai ego kita, ditambah dengan keputus-asaan dan perasaan inferior yang tumbuh akibat banyaknya masalah dan kesempitan hidup yang terus-terusan mendera, pada akhirnya mengkristal menjadi titik tolak lahir dan dipercayanya sejarah-sejarah ‘baru’ dalam jagad pascakebenaran ini. Maka tidak heran, apabila orang kemudian berlomba-lomba--dan berbusa-busa--mencari pembenaran, bukan kebenaran, dari masalah Lembu Tal ayah Raden Wijaya yang diubah gendernya, ‘nabi-nabi’pencerah Tanah Jawa yang berasal dari daratan Cina, sampai dengan harta karun Soekarno yang sertifikat pencairannya tersebar di mana-mana. Gejala ini menjadi sangat marak dan walaupun dibabat satu, masih akan tumbuh seribu. Sebab, yang dicari dari cerita-cerita semacam ini bukan lagi kenyataan historis untuk menyambung-nyambungkan puzzle yang terserak dalam rangka menuju masa depan bangsa yang lebih cerdas, ulet, dan ikhlas lahir batin untuk berkomitmen menjaga tumpah darahnya; melainkan hanya sebatas perasaan marem, puas, dan kalau perlu merasa ‘tahu dan tercerahkan’ tentang masalah-masalah yang selama ini diderita dalam hidupnya--yakni dengan cara menemukan para ‘penjahatnya’-- yakni para kambing hitam historis, yang bisa jadi juga tidak benar-benar ada. 

Maka, kadang-kadang daripada dongkol, saya lebih sering merasa geli dengan komentar-komentar di Facebook atau Instagram, yang menimpali foto Pakubuwana X, Kaisar Jawa yang punya reputasi mendukung banyak cendekiawan Jawa yang turut andil dalam Kebangkitan Nasional, dengan ejekan “jongos penjajah”, hanya karena perawakan Beliau yang gemuk dan banyak lencana penghargaan yang dikenakannya; Pun dengan komentar-komentar lain yang tidak kalah menyedihkannya, di antaranya soal Majapahit yang dianggap mitos, sampai dengan  kreator konten yang terang-terangan menyebut orang Jawa sebagai “budak dan sekutu asing”. Peristiwa saling tuding dan saling mendaku “siapa penjahat” dan “siapa pahlawan” ini, rupanya juga bermula dari bagaimana bangsa kita saat ini membaca sejarah: masyarakat kita yang setiap hari hampir pecah kepalanya memikirkan bagaimana mendapatkan pekerjaan, upah, dan kebutuhan dasar yang layak, nyaris tidak punya ruang untuk berkontemplasi dan merenungkan lagi apa arti ‘kemerdekaan’ bagi hidup mereka. Toh, merdeka atau tidak, sama saja. Bahkan jangan-jangan dengan semakin derasnya tuntutan pragmatis dalam kehidupan, mereka sudah lupa dengan apa arti kemerdekaan itu, sebab untuk bertahan hidup saja sudah terlalu letih. 

Gambar 03. Pakubuwana X ꦦꦑꦸꦨꦸꦮꦟ꧇꧑꧐ | Koleksi Tropenmuseum

Di sisi lain, hilangnya generasi pelaku perjuangan bangsa juga jadi salah satu penyebab lainnya. Setelah para saksi  sejarah ‘tiada’, orang-orang yang ingin mendapatkan keuntungan apapun, mulai dari mencari massa untuk kepentingan politik sampai sekadar mencari panggung demi sesuap nasi, mulai mengobral dongengnya. Masyarakat kita, yang dasarnya memang sangat kuat dalam tradisi lisannya, tentu akan lebih senang mendengar cerita bahwa leluhur A sanggup melawan penjajah hanya dengan bersenjatakan bambu runcing, atau seorang tokoh sejarah B punya ajian Lembu Sekilan, daripada mendengarkan betapa rumit dan melelahkannya proses perjuangan intelektual, perdebatan-perdebatan panas, dan mungkin juga adanya banyak hal yang tidak atau belum selesai tentang kesepakatan-kesepakatan menuju ‘merdeka’ sampai saat ini. Masyarakat kita lupa, bahwa untuk mencapai sebuah titik ‘merdeka’ itu, kita perlu lebih dari sekadar bambu yang diruncingkan, diraut, dan dimantrai tokoh-tokoh spiritual untuk memenangkan pertarungan ini. Dan di sisi lain pula, para selebritis dan avonturir media perlu juga membuka mata dan telinga mereka lebar-lebar, bahwa kemerdekaan itu lebih besar dan lebih mulia daripada tunggangan menuju popularitas dan privilese di tengah-tengah zaman Kalatidha. Dan yang lebih penting lagi, kita semua perlu menyadari bahwa merdeka bukanlah sebuah keadaan yang taken for granted. Ia tidak hanya perlu diperjuangkan, tapi juga dimaknai, disadari, dan dipahami benar-benar. Tidak hanya lewat serangkaian lomba-lomba, mengibarkan bendera, sampai dengan wajib hadir dalam upacara, yang dalam kenyataannya diikuti juga oleh beberapa pasang mata yang terkantuk-kantuk akibat belum tutug tidurnya setelah lelah menjadi panitia acara di kampung masing-masing. 

Sampai di titik ini, saya kemudian teringat dengan cerita mendiang teman almarhum ayah saya, yang setelah selesai zaman revolusi fisik, kemudian masuk dinas ketentaraan, dan tak lama kemudian keluar karena ingin punya ‘kehidupan sipil’ yang lebih nyaman baginya. Beliau pernah bercerita, seingat saya, bahwa suatu waktu ia pernah bersama regunya ditugasi menumpas gerombolan perampok atau penjarah di sebuah desa. Setelah kehebohan itu padam, tokoh-tokoh yang terlibat mulai diinterogasi. Salah satu dari mereka, ketika ditanya mengapa mereka menjarah harta kekayaan (terutama bahan makanan) dari bangsa sendiri, dengan polosnya mereka menjawab, “Kan, sudah merdeka!”. Bagi mereka, yang juga turut menjadi korban ketidakmerataan kesejahteraan dan kadang hanya ikut-ikutan, anut grubyug, merdeka bisa jadi hanyalah sebuah konsep adiluhung yang sulit dipahami hakikatnya. Si tentara yang terkejut lalu mendapat jawaban lain yang tidak kalah menariknya, bahwa “Kalau merdeka, kan, makan sudah tidak perlu bayar lagi. Lha ini kita masih beli!”

Dari situ pula, saya kemudian sadar, bahwa di tengah kebesaran dan keagungan masa lalunya, kita berdiri di atas sebuah pondasi bangsa yang masih rapuh. Perasaan saling curiga, saling mendendam, dan bahkan saling curi kesempatan untuk meraih keuntungan, masih lebih menyala-nyala daripada mencoba menepikan semua perbedaan yang kita miliki untuk menyadari bahwa sebagai sebuah bangsa, kita terikat dalam perjanjian suci untuk saling mendukung, saling melindungi, saling menjaga, dan hidup bersama dalam harmoni. Orang-orang tenggelam dalam mimpi kebesaran Majapahit, keagungan Sriwijaya, kehebatan Medang, dan sebagainya, bukan untuk mencari inspirasi bangkit dan berkarya mengisi hidup mereka dengan karya-karya dan gebrakan besar bagi kemanusiaan, melainkan hanya sebatas kembang lambe, buah bibir, supaya malam-malam penuh obrolan jadi lebih panjang, dan esok paginya menganggur jadi lebih asyik untuk dijalani, sebab malam berikutnya masih ada bahan untuk dibualkan, kalau perlu, sampai eyel-eyelan. 

Pondasi yang masih rapuh ini, semakin bertambah rapuh lagi dengan adanya kenyataan bahwa generasi Z dan Alpha saat ini, kebetulan mulai mampu mengakses media dengan ketiadaan sumber memadai tentang jatidiri dan sejarah masa lalu dari sumber-sumber yang bisa dipercaya, dan kebetulan lagi, mereka lahir dan mengalami masa-masa remajanya di tengah-tengah gelombang intersubjektivitas, yang menabrakkan satu asumsi dengan asumsi lainnya, hanya karena tersulut konten media yang dibaca secara mandiri tanpa adanya filter yang memadai. Bukan salah mereka lahir di zaman ini, namun barangkali ini sudah jadi suratan sejarah pula, yang di lain pihak juga bukan berarti bahwa kita harus lepas tangan dan hanya bisa pasrah menanti ikatan kebangsaan ini jebol sewaktu-waktu, layaknya sebuah bendungan besar yang dibangun dengan pondasi kardus. 

Dan pondasi ini mungkin akan terasa lebih rapuh lagi begitu kita menyadari, bahwa pekik ‘Merdeka!’ hari-hari ini sudah mulai kehilangan harganya. Selain karena generasi kini tak tahu lagi betapa berdarah-darahnya hari-hari yang telah lalu untuk dengan bangga dan aman memekikkan semboyan ini, juga karena semua pihak kini sudah tak ambil pusing lagi untuk memaknai kata ini. Yang ada sekarang, tinggallah ‘pseudo-Merdeka’, merdeka yang semu, yang jauh dari apa yang barangkali pernah dibayangkan oleh para pendiri bangsa. Merdeka mungkin semakin sempit artinya, yang bisa dilihat dari cita-cita kita untuk sebatas ‘merdeka finansial’; Merdeka juga bisa melenceng maknanya, ketika kita memandang bahwa merdeka itu adalah ‘arbitrer’, boleh berbicara semaunya, bertindak semaunya, dan menindas sekehendaknya; Merdeka juga barangkali semakin kehilangan makna, ketika kita sebagai manusia kemudian semakin lama semakin kehilangan ‘kemerdekaan’ kita untuk sekadar merenung, meresapi, dan memahami sangkan paraning dumadi--sebab kita telah dijerat oleh algoritma untuk menuruti syahwat konsumtif dan pancingan-pancingan provokatif, yang sebenarnya akan membawa kita ke arah kehancuran diri sendiri. 

Dirgahayu Bangsaku, Negaraku. Sudilah untuk mengenali dan merenungkan kembali mengapa dan untuk apa kita merdeka. 

Next
Next

Khodam